Paviliun Bulan Perak berdiri megah di tengah malam yang sunyi. Udara malam yang sejuk menyelimutinya, membuat para tamu penginapan merasa nyaman dan terbuai dalam ketenangan. Lentera-lentera yang menggantung di serambi depan berkedip lembut, memancarkan cahaya merah yang menenangkan. Namun, di balik ketenangan itu, bayangan gelap bergerak dengan hati-hati di atas atap, nyaris tak terdengar.

Beberapa sosok berpakaian serba hitam dengan penutup wajah bergerak mengendap-endap, mengamati setiap sudut dengan ketelitian yang tajam. "Apa kamu yakin wanita itu ada di tempat ini?" desis salah satu pria, matanya tajam menelusuri bayangan di bawah.

"Aku sudah membayar mahal untuk mendapatkan informasi ini. Wanita tersebut ada di lantai dua, kamar nomor sepuluh, dan dia sendirian," jawab rekannya dengan penuh keyakinan.

Pria lain, dengan nada khawatir, bertanya, "Bagaimana dia bisa menghilang dari depan kita sebelumnya? Apakah penolongnya juga ada di tempat ini?"

"Informasi yang kudapatkan, dia bersama pemuda yang bersamanya tapi mereka tidur dikamar yang terpisah," kata pria yang memiliki informasi, menegaskan situasi yang mereka hadapi.

"Baguslah, kali ini kita tidak boleh gagal atau Tuan Muda akan benar-benar menghukum kita kali ini," katanya, suaranya bergetar. "Kau tahu sendiri, tuan muda tidak kenal belas kasihan."

"Ya, dan karena kegagalan kita siang tadi, kita sudah hampir dibunuhnya. Kita harus berhati-hati," tambah yang lain. "Sekali kita bekerja untuk Tuan Muda, tidak ada jalan keluar selain mati."

"Tapi setidaknya dia membayar kita dengan baik," pria pertama mengingatkan, mencoba menenangkan rekan-rekannya. "Sekarang, ayo fokus pada rencana. Kita gunakan asap bius untuk melumpuhkannya, masuk lewat jendela, lalu membawa wanita itu ke atap sebelum ada yang menyadari."

Mereka bergerak dengan sangat hati-hati dan terampil, pekerjaan ini sudah menjadi bagian dari rutinitas mereka untuk memenuhi keinginan Tuan Muda.

"Apa kamu punya informasi siapa mereka?" tanya salah satu pria sambil menyiapkan tali yang akan digunakan oleh rekannya untuk turun, sementara yang lain memegangi talinya.

"Nama mereka Xiao Ling dan wanita itu Yun Qing," jawab pria yang berada di paling belakang.

"Darimana kamu mengetahuinya? Ternyata kamu lebih cepat dariku mencari informasi," kata pria yang sebelumnya memiliki informasi tentang keberadaan wanita tersebut.

"Tunggu, bukankah kita hanya berempat? Kenapa jumlah kita ada lima orang?" tiba-tiba seorang pria menyadari keganjilan yang ada, melihat ketiga rekannya ada di depannya.

Mereka menoleh ke belakang dan melihat seorang pemuda yang tersenyum geli melihat mereka. "Aku kira kalian tidak akan menyadari keberadaanku karena terlalu serius."

"Kamu? Bagaimana kamu bisa di sini?" kata mereka dengan tidak percaya, gemetar ketakutan.

Mereka tidak mengerti bagaimana pemuda tersebut bisa berada di antara mereka tanpa satupun dari mereka menyadarinya.

Pemuda itu menatap mereka dengan santai, namun matanya menyiratkan ketajaman yang membuat bulu kuduk meremang "Jadi kalian yang sudah mencoba menyakiti temanku siang tadi. Katakan siapa yang menyuruh kalian?" ujar pemuda yang ternyata adalah Lynx.

Di tengah malam, Lynx terbangun karena merasa ada yang aneh. Sejak kejadian buruk hampir menimpa Jelita, Lynx menjadi lebih waspada dan merasakan ada suara gerakan aneh di atap.

"Seharusnya orang di lantai tiga sudah tidur, kalaupun olahraga malam pasti tidak begini suaranya," batin Lynx sambil tertawa kecil.

Dia mengeluarkan kekuatannya untuk mengetahui apa yang terjadi di atap dan merasakan gerakan empat orang di atas dengan gerakan mencurigakan.

Lynx segera bergerak cepat lewat jendela dan mendekati mereka dari belakang, memperhatikan apa yang mereka rencanakan.

Setelah memperhatikan dengan seksama, Lynx menyadari dugaannya benar. Mereka masih mengincar Jelita. "Aku tidak akan melepaskan mereka kali ini," pikirnya.

"Segera bunuh dia, jangan biarkan ada saksi mata," perintah seorang pria dengan nada mendesak.

Mereka bergerak cepat, mengeluarkan senjata mereka dan bergerak dengan hati-hati untuk mengepung pemuda tersebut. 

"Seharusnya kamu tidak ikut campur urusan kami dan masih tidur nyenyak di tempat tidur." kata salah satu dai mereka.

Namun Lynx tida meresponnya, dia sudah bertekad untuk membalas perbuatan orang-orang yang menyakiti Jelita. melainkan dia bergerak dengan kecepatan luar biasa. Dalam sekejap, ia menangkap tiga orang sekaligus dan melempar mereka jauh ke kegelapan malam, tubuh mereka menghilang dari pandangan dalam sekeja.  "Kalau kalian masih hidup dari lemparan itu, anggap saja kalian beruntung," katanya dengan tegas.

"Apa... apa yang kamu lakukan?" tanya pria yang tersisa, suaranya bergetar ketakutan melihat ketiga temannya dilempar seperti barang kecil.

Saat melempar, Lynx sengaja bergerak perlahan agar pria tersebut bisa melihatnya. Namun, begitu dilempar, tubuh mereka langsung menghilang dari pandangan karena kecepatan dan kekuatan lemparan yang luar biasa.

Lynx tersenyum tipis, ekspresinya tetap santai, tapi aura yang dipancarkannya membuat pria itu semakin ketakutan.  "Kita sebaiknya tidak mengganggu orang yang sedang beristirahat."

Ia segera mendekati pria yang tersisa, yang kini terlihat ketakutan dan tidak mampu bergerak. Lynx meraih pria itu dengan satu tangan, lalu membawanya pergi dengan cepat. Dalam hitungan detik, keduanya sudah berada di hutan Fenglin. Lynx memastikan untuk melapisi tubuh pria itu dengan sedikit kekuatan agar tidak terluka karena gesekan udara saat bergerak dengan kecepatan yang melampaui suara.

Pria itu terkejut dan ketakutan karena merasakan tubuhnya sedikit terangkat, dan tiba-tiba mereka sudah berada di tengah kegelapan malam. Dia tidak menyadari bahwa mereka berada di tengah hutan.

Dengan mata tembus pandangnya yang dapat melihat dalam kegelapan, Lynx membawa pria itu ke tempat yang tenang di mana ia bisa menginterogasinya.

"Katakan, siapa yang menyuruh kalian, atau aku akan membuatmu seperti teman-temanmu," ancam Lynx dengan suara yang terdengar sangat menakutkan bagi pria tersebut.

"Aku... aku melakukannya untuk diriku sendiri," kata pria itu dengan gugup. Pria itu menelan ludah. Meski merasa takut dengan pemuda di depannya, ancaman dari tuan mudanya juga menghantui pikirannya. Dengan kekuatannya, seluruh keluarganya bisa berada dalam bahaya.

"Begitu ya, kamu cukup berani melindungi tuanmu, Tidak perlu repot-repot menyangkal. Aku tahu ini ulah Huo Tao," kata Lynx sambil menyebutkan nama yang membuat pria itu terdiam. 

Lynx bisa menebak dengan tepat karena yakin sejak mereka keluar dari desa, hanya satu orang yang memiliki niat jahat ditempat ini terhadap Jelita. Sedangkan kelompok Gao Zhen, dan Gao Tian, tidak ada yang mengetahui hubungan Jelita dengan mereka kecuali Li Wei dan komandan Jiang beserta prajuritnya, namun dia yakin, mereka tidak mungkin berhubungan dengan hal ini, karena yang menjadi target incaran kelompok Gao adalah Li Wei.

"Aku bukan suruhan Tuan Muda Huo Tao," katanya dengan panik, mencoba membela diri.

"Baiklah, siapapun yang menyuruhmu, aku tidak peduli. Kalau aku jadi dirimu, aku akan mulai mencari jalan keluar dari tempat ini," kata Lynx sebelum menghilang dari tempat itu. 

Dari ekspresi dan bahasa tubuh yang ditunjukkan oleh pria itu, Lynx bisa memperkirakan dugaannya sudah tepat mengenai orang dibalik mereka.

"Semoga kamu bisa menghindari kawanan serigala itu," pikir Lynx dalam hati. Ternyata, pria tersebut dibawa Lynx kedekat sarang serigala. Ketika bersama pria itu, Lynx menggunakan kekuatannya untuk menutupi kehadiran mereka, dan saat Lynx pergi, kawanan serigala mulai mencium keberadaan pria tersebut.

Pria itu masih merasa bingung, berusaha mencerna maksud perkataan pemuda di hadapannya, sebelum akhirnya ia menyadari sesuatu. Lynx sudah pergi, menghilang dalam sekejap, meninggalkannya sendirian di tengah kegelapan. Perlahan, suara langkah kaki mulai terdengar di sekelilingnya, disusul dengan suara geraman rendah yang membuat bulu kuduknya berdiri.

Ketika ia menoleh, matanya membelalak ketakutan. Dari balik pepohonan, mata-mata merah bersinar dalam kegelapan. Kawanan serigala telah menyadari kehadirannya.

Dalam sekejap, Lynx kembali ke kamarnya. Dia menggunakan penglihatan tembus pandangnya untuk memeriksa kondisi Jelita. Setelah memastikan Jelita tidur nyenyak, Lynx mencoba bermeditasi untuk menemukan jejak mencurigakan yang dapat membantunya menemukan Leena. Dengan tenang, dia memfokuskan pikirannya, berharap bisa mendapatkan petunjuk yang dapat membawanya lebih dekat menemukan sosok gadis yang di rindukannya.

